Jawa Tengah Hadapi Dampak Iklim

April 23 2026 | By. John Doe

Perubahan iklim semakindirasakan dampaknya di berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah. Kajian yang dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas dalam kerangka pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan apabila tidak diantisipasi secara sistematis. Dalam konteks Jawa Tengah, sektor kelautan dan pesisir diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling rentan dengan potensi kerugian mencapai sekitar Rp77,61 triliun pada periode 2020–2024, diikuti oleh sektor pertanian, kesehatan, dan sumber daya air. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pembangunan daerah.

Sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim, Greeneva bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan dukungan Kemitraan menyusun Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD-API). Penyusunan dokumen ini dilakukan melalui kajian yang mencakup analisis proyeksi iklim, identifikasi bahaya iklim, analisis kerentanan wilayah, serta pemetaan risiko perubahan iklim hingga tingkat kecamatan.

Hasil analisis proyeksi iklim dalam studi ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan suhu udara di Provinsi Jawa Tengah pada masa mendatang. Berdasarkan data historis dari BMKG dan skenario perubahan iklim, suhu udara rata-rata diproyeksikan meningkat sekitar 0,02°C per tahun pada skenario emisi moderat (RCP4.5) dan sekitar 0,04°C per tahun pada skenario emisi tinggi (RCP8.5). Peningkatan yang lebih signifikan terjadi pada suhu maksimum yang berpotensi meningkat hingga sekitar 3°C pada skenario moderat dan lebih dari 5°C pada skenario emisi tinggi pada akhir abad ini. Selain itu, analisis terhadap
pola curah hujan juga menunjukkan adanya kecenderungan penurunan curah hujan tahunan sekitar 8,9 mm per tahun pada skenario RCP4.5 dan sekitar 14,5 mm per tahun pada skenario RCP8.5, yang berpotensi meningkatkan risiko
kekeringan di berbagai wilayah Jawa Tengah di masa depan.

Berdasarkan proses identifikasi yang dilakukan bersama perangkat daerah dan pemangku kepentingan, studi ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim di Jawa Tengah paling signifikan dirasakan pada lima sektor utama, yaitu sektor pesisir,
sumber daya air, pertanian dan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta kebencanaan. Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa banjir rob telah berdampak pada 83 kecamatan di wilayah pesisir dengan luas tambak yang terdampak penggenangan lebih dari 15.000 hektar. Pada sektor sumber daya air, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah mencatat sekitar 35.400 hektar daerah irigasi berada pada wilayah rawan kekeringan. Sementara itu, data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa sekitar 241.682 hektar lahan pertanian berpotensi terdampak kekeringan, sementara sebagian wilayah lainnya juga memiliki risiko banjir yang dapat mempengaruhi produksi pangan.